Selasa, 10 November 2015

Filosofi Pohon Bambu

Filosofi Pohon Bambu

Semua pasti tahu pohon bambu, pohon yg indah & kuat akarnya juga bisa jadi menu makanan favorit. Batangnya bisa sbg kerajinan dan bahan bangunan. Bahkan daunnya bisa di jadikan ramuan obat2 an.
.
Namun, pohon bambu tdk akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 5th pertama. "Walaupun setiap hari disiram dan di beri pupuk.. tumbuhnya hanya beberapa cm saja.
.
Namun setelah 5th.. pertumbuhan bambu tidak bisa dibendung. Ia tumbuh begitu dahsyat, dan ukurannya bukan lagi cm.. melainkan meter.. dan itu terjadi dalam hitungan minggu.
.
Sebetulnya apa yg terjadi pada pohon bambu tsb?
.
Ternyata setelah 5th pertama, ia mengalami pertumbuhan dahsyat pada akarnya.. bukan batangnya.. pohon bambu sedang menyiapkan pondasi yg sangat kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter!
.
Bayangkan apa yg terjadi jika bambu tidak punya akar yg kuat untuk menopang ketinggiannya? Sedikit tiupan angin akan membuatnya tumbang!
.
Didalam segala usaha kita, apalagi usaha baru.. mungkin ada masanya kita masih gagal dan putus asa. Ingatlah.. bambu ini..
.
Terkadang kegagalan kita dan usaha kita "sepertinya" tidak ada hasilnya itu sesungguhnya menumbuhkan akar yg panjang.. mental kita sedang di uji dan dipersiapkan.. agar kita punya kesempatan tumbuh ke atas dan menjadi sukses.. mental kita sdg dipersiapkan untuk di terpa angin2 cobaan. Karena itu semangatlah selalu..
.
Ketika bambu ditiup angin.. ia akan merunduk, semakin keras angginnya.. makin merunduk dia..
.
Pohon bambu setelah tunasnya baru keluar rebung. Ini terjadi setelah 5th lebih bambu ditanam. Hal ini mengajarkan bagaimana kita perlu PROSES untuk bisa menghasilkan sesuatu yg luar biasa. .
Tidak ada yg instan didunia ini. Hanya dg kesabaran, ketekunan, kegigihan dalam usaha lah baru bisa menghasilkan buah yg luar biasa..
.
This is for remember my self.. and big note to my self.. keep spirit nit. You can if you believe.. 😉 .
. ▪ Tag teman-teman dan sahabat kalian. ▪

Tidak ada komentar:

Posting Komentar