Jumat, 06 Maret 2015

Dalam Kesulitan Selalu Ada Kemudahan

Dua Wajah Hidup

Suatu hari, seseorang bertanya kepada Imam Ja'far Al-shadiq, "Apa bukti adanya Allah?" Imam Ja'far bertanya, "Apakah hingga kini kamu pernah menaiki perahu?" Orang itu menjawab, "Ya, pernah. "Imam Ja'far bertanya lagi, "Apakah kamu pernah tenggelam, sementara saat itu harapanmu untuk bisa selamat sudah habis?" Orang itu kembali menjawab, "Ya, saya pernah mengalami itu." Imam Ja'far bertanya lagi, "Apakah saat itu hatimu berpaut pada sesuatu, dan kamu memohon kepada-nya untuk menyelamatkanmu?" Orang itu menjawab, "Ya, benar demikian. "Lalu Imam Ja'far berkata, "Itulah Allah."


Saat mengalami kesulitan, kesusahan dan kesedihan, kita sering menyebut nama Allah. Tapi, ketika dijauhkan dari segala sesuatu yang membuat kita sedih, kita hampir jarang menyebut nama-Nya. Dalam Surah Al-Ra'd (13) ayat 28, Allah menyampaikan firman-Nya dengan ungkapan yang menggugah: ala bi dzikrillah tathma'innul qulub. Percayalah, dengan mengingat Allah, hatimu akan menjadi tenang.

Mengingat Allah disini bukan hanya saat kita terpuruk, tapi juga saat kita senang dan bahagia. Mengingat Allah di kala sedih adalah untuk membangkitkan perasaan kita bahwa ia selalu ada bersama kita. Mengingat Allah di kala bahagia adalah untuk menyadarkan kita betapa ia bisa kapan saja mengambil kembali kebahagiaan dan kesenangan yang kita rasakan.

Hidup ini punya dua wajah. Kadang wajah senang, kadang wajah susah; kadang bahagia, kadang sengsara. Tidak ada manusia yang senang terus, bahagia terus. Begitu pula, tidak ada orang yang susah melulu, sengsara melulu. Susah dan sengsara harus ada di tengah senang dan bahagia, sebab jika tidak ada, hidup menjadi tidak seimbang. Percayalah, Allah menyapa kita dengan kesusahan, kesulitan, dan kesedihan yang kita alami tiada lain agar kita bisa meningkatkan derajat penghambaan kita kepada-Nya.

Ada seorang bercerita, "Kang, usaha saya baru saja berkembang, kini sudah bangkrut. Bahkan, rekan kerja yang juga sahabat yang sangat saya percayai, berkhianat. Uang yang harusnya saya terima, malah dibawanya kabur dan dipakainya untuk membeli rumah. Jujur, saya marah sekali. Hidup saya kini kacau dan hancur. Istri saya juga tidak tahan dengan perubahan sikap saya ini. Ia memilih kembali ke orangtuanya. akhirnya, kini saya harus kehilangan harta, teman dan istri. Tidak ada lagi yang tersisi untuk saya di dunia ini."
Benarkah hidupnya berakhir sampai di situ? Tentu tidak. Setiap kita diberi kemampuan untuk menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Ozzy Osbourne, vokalis Black Sabbath, pernah berujar, "I Got rabies shots for biting the head off a bat but that's OK, the bat had to get Ozzy shots." Apa maksudnya? Selalu optimistis bahwa kita ini bisa lebih baik daripada masalah yang sedang kita hadapi. Perbedaan antara manusia optimis dan manusia pesimis sungguh sangatlah tipis. Orang yang optimis memandang kegagalan yang terjadi pada dirinya disebabkan sesuatu hal yang dapat diubah sehingga ia yakin bisa berhasil di masa mendatang. Sebaliknya, orang yang pesimis menerima kegagalan sebagai kesalahannya sendiri. Ia merasa mempunyai bakat untuk tidak berhasil.


Saya pernah ditanya, apakah suami-istri yang bercerai itu menandakan mereka tidak berjodoh, dan karenanya takdir Allah memisahkan mereka? Inilah persepsi keliru dalam memahami ketetapan Allah. Suami-istri itu menikah karena dipertemukan oleh takdir Allah. Jadi, mereka memang berjodoh. Tapi, ketika bercerai itu juga takdir Allah sebagai hasil ikhtiar pasangan tersebut dalam membina rumah tangga mereka. Kalau suami-istri yang telah bercerai itu menikah lagi, di sana juga takdir Allah.

Umar ibn Al-Khaththab r.a bertanya kepada seseorang yang tidak mengikatkan keledainya sebelum masuk masjid, lalu dijawab oleh orang tersebut, "Buat apa diikat? Jika memang takdirnya, keledai saya tidak akan hilang." Umar r.a berkata, "Berusahalah dahulu (dengan cara mengikat keledai), baru Anda bertawakal (pasrah dengan takdir)."

Dalam peristiwa lain, ketika Umar r.a mengungsi dari Madinah karena sedang ada wabah penyakit, ia ditegur oleh seorang, "Mengapa engkau mengungsi? Bukankah jika takdirmu tidak akan terkena penyakit, engkau tidak akan terkena penyakit?" Lalu Umar r.a menjawab, "Aku berpindah dari takdir yang satu (diam saja) kepada takdir yang lain (mengungsi untuk menghindari wabah penyakit)."

Memang, setiap kita tidak lepas dari takdir Tuhan, tetapi takdir-Nya tidak hanya satu, dan kita diberi kemampuan untuk memilih. Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, tapi setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang begitu sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.

Kita semua membutuhkan sesuatu yang baik untuk dituju. Harapan memberi kita hal itu. Harapan akan kebahagiaan. Harapan akan ketenangan batin. Harapan ketenteraman hidup. Ia bisa menjadi kompas bagi kita, mengarahkan ke mana kita harus menuju. Kalau, tidak, kita takkan pernah tahu apakah langkah kita sudah tepat atau belum, apakah langkah kita maju atau malah mundur. Kalau bergerak ke sembarang arah selain menuju harapan, kita akan kehilangan berbagai kesempatan untuk meraih hasanah, kebaikan, di dunia maupun di akhirat nanti.

Insya Allah, selama kita masih punya harapan, Allah takkan berpaling meninggalkan kita begitu saja. Kita hanya butuh harapan dan kepercayaan. Harapan untuk selalu menjadi lebik baik dalam hidup, dan percaya Allah selalu membantu kita untuk mewujudkan harapan tersebut. Dalam hadis qudsi, Allah menyerukan, "Aku bergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam hatinya. Aku mengingatnya pula. Jika dia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Aku mengingatnya di tengah orang banyak yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat sejengkal kepada-Ku, Aku mendekat sedepa kepadanya. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari."

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati 
hasanah wa qina 'adzabannar.

Duhai Allah! Karuniakan kepada kami kebaikan hati maupun materi- di dunia dan kebaikan pahala amal saleh kami dan surga-Mu di akhirat. Lindungi kami dari siksa api neraka-Mu yang membuat kami begitu takut. Aamiin.

#Sumber : Buku








Tidak ada komentar:

Posting Komentar